Kamis, 17 Februari 2011

Website PPI Turki

PPI Turki melalui kepengurusan periode 2010-2011 telah meluncurkan website baru dengan alamat : www.ppiturki.org

Dengan demikian untuk informasi tentang studi dan berbagai macam serba-serbi kehidupan pendidikan dan kegiatan mahasiswa Indonesia di Turki bisa diakses melalui situs tersebut.

Semoga bermanfaat

Kamis, 21 Oktober 2010

Berbagi pengalaman tentang beasiswa pemerintah Turki

Kuliah di luar negeri dengan beasiswa tentu sudah menjadi impian bagi setiap orang di Indonesia apalagi dengan mahalnya biaya pendidikan tinggi di Indonesia saat ini tentunya bisa kuliah gratis plus dapat menikmati  kehidupan di luar negeri yang berbeda budaya tentu akan menjadi satu pengalaman hidup tersendiri dan salah satu negara yang belakangan ini menjadi tujuan belajar para calon mahasiswa Indonesia adalah Turki.

Turki adalah negara yang cukup unik karena berada di persimpangan dua benua yaitu Asia dan Eropa terutama kota tua İstanbul atau yang dulu disebut Konstantinopel. Kota İstanbul memang dibelah menjadi dua bagian yaitu di Asia dan Eropa, bagian utara berada di benua Eropa dan selatan di benua Asia. Selain itu Turki juga banyak menyimpan koleksi benda bersejarah mulai dari zaman pra sejarah hingga kekhalifahan terbesar di dunia Islam, Utsmaniyah. Dengan latar belakang itulah Turki menjadi negara yang kaya akan muatan sejarah dan budaya. Alasan inilah yang banyak menarik minat mahasiswa Indonesia untuk belajar di Turki selain juga wilayah geografis yang sudah masuk ke dalam benua Eropa.

Studi di Turki bisa ditempuh dengan beberapa jalan yaitu biaya sendiri (bagi yang memiliki cukup biaya) dan beasiswa. Untuk studi di Turki dengan biaya sendiri maka prosedur yang harus dilakukan memang cukup rumit terutama untuk warga negara asing. Untuk tingkat sarjana atau S1 diwajibkan mengikuti semacam ujian khusus untuk masuk ke perguruan tinggi atau biasa disebut YÖS (Yabancı Öğrenci Sınavı) atau ujian khusus untuk mahasiswa asing. Setelah mengikuti YÖS maka calon mahasiswa akan diberitahukan nilai yang diraih kemudian dicocokkan dengan nilai minimum fakultas dan universitas yang ada di Turki. Kabarnya sejak tahun 2011 YÖS akan ditiadakan dan prosedurnya menggunakan ekuivalensi nilai mata pelajaran di Indonesia dan UN. Sedangkan untuk pasca sarjana (S2 dan S3) calon mahasiswa diwajibkan mengikuti ujian khusus yang disebut Alles Sınavı dalam bahasa Turki namun adapula universitas yang tidak mewajibkan Alles dan menggantinya dengan test berupa GRE/GMAT dan TOEFL seperti pada Bosphorus University dan Middle East Technical University (METU). Sebagian besar universitas di Turki memang masih menggunakan bahasa Turki sebagai pengantar kuliahnya namun sejak Turki masuk dalam list kerja sama dengan lembaga pendidikan Uni Eropa (Erasmus Mundus) maka sudah ada beberapa universitas yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantarnya. List universitas yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantarnya bisa dilihat di masing-masing website universitas di Turki (untuk mencari nama-nama universitas di Turki bisa search via Google). Nah jika sudah lulus ujian tersebut maka prosedur selanjutnya adalah pendaftaran kuliah dan pemilihan mata kuliah untuk masing-masing program studi yang diminati. Terkecuali untuk bidang studi kedokteran, universitas Turki juga mewajibkan ujian tambahan berupa TUZ (Türkiye Uzmanlık Sınavı) atau ujian keahlian dalam bahasa Turki. Jadi bila hendak mengambil ilmu spesialisasi di Turki warga negara selain Turki mesti mengikuti ujian tersebut yang kabarnya lumayan susah plus berbahasa Turki pula ujiannya. Pengalaman rekan saya yang berasal dari salah satu negara di Asia tengah sampai 3x mengulang ujian masih belum lolos juga padahal dia tergolong cukup pandai dan bahasa di negara asalnya juga mirip-mirip bahasa Turki.

Setelah lolos tahapan ujian tersebut maka prosedur yang perlu dilakukan adalah pendaftaran dan pemilihan mata kuliah di program studi yang diminati. Sebagai tambahan beberapa universitas di Turki sudah memiliki semacam student exchange dengan universitas di negara-negara anggota Uni Eropa. Jadi kita bisa mengikuti student exchange tersebut selama satu semester dan merasakan suasana pendidikan di universitas yang berbeda contohnya di kampus saya memiliki kerja sama dengan beberapa universitas di Jerman, Belanda, Swedia, dan Prancis jadi saya bisa mengikuti program student exchange di universitas negara-negara tersebut selama satu semester dengan cara mendaftarkan diri dan lolos seleksi yang diadakan oleh kampus saya.

Setelah semua proses dilakukan yang perlu dipikirkan adalah biaya kuliah dan biaya hidup. Biaya tersebut bervariasi tergantung dimana mahasiswa tinggal kalau di kota besar seperti İstanbul atau Ankara tentu biayanya lebih besar dibandingkan di kota kecil seperti Antalya atau Eskişehir. Rata-rata biaya hidup di Turki mencapai 1000 USD/bulan jika kuliah dengan biaya sendiri jadi tinggal hitung saja berapa biaya yang dibutuhkan selama setahun diluar uang kuliah lhoo....

Dan yang menjadi satu ganjalan adalah mahasiswa asing secara resmi masih belum diizinkan untuk bekerja di Turki mengingat jumlah pengangguran di Turki sendiri juga masih cukup banyak. Beberapa mahasiswa terutama yang berada di wilayah pusat pariwisata atau kunjungan turis kadangkala memanfaatkan waktu libur atau senggang dengan menjadi tour guide namun pekerjaan ini tidak bersifat permanen alias temporer saja dan tergantung pada koneksi serta informasi yang didapatkan tentang kebutuhan akan tour guide. Adapula rekan yang pernah bekerja magang dengan sebuah lembaga pendidikan Uni Eropa untuk menjadi tutor di kala liburan musim panas. Saya sendiri cukup beruntung bisa mendapatkan semacam pekerjaan sampingan sebagai research assistant di laboratorium tempat saya belajar karena kebetulan ada project yang didapatkan oleh dosen pembimbing thesis dan penelitan, pekerjaan ini bisa didapatkan apabila dosen pembimbing penelitian (terutama Doctoral research) mendapatkan project di institusinya dan penilaian atas kapabilitas kita dalam mengerjakan project tersebut. Dosen biasanya akan memberikan semacam test berupa kemampuan dasar tentang project yang dilakukan plus kemampuan bahasa Turki yang kita kuasai. Karena project yang dilakukan nantinya akan dilaporkan dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Turki. 

Bagaimana dengan beasiswa? Beasiswa di Turki selama ini ada yang berasal dari yayasan pendidikan Turki di Indonesia dan juga pemerintah Turki. Saya kurang begitu mengetahui tentang beasiswa yayasan pendidikan Turki yang berada di Indonesia baik prosedur dan persyaratannya salah satu yayasan tersebut adalah PASIAD yang juga membuka international school di Indonesia, jika ada yang berminat mendaftar beasiswa melalui yayasan tersebut disarankan langsung menghubungi yayasan PASIAD (sekali lagi dimohon search sendiri yah prosedur, persyaratan, dan segala hal yang berkaitan dengan beasiswa tersebut karena saya juga gak ngerti bagaimana beasiswa tersebut didapatkan).

Lalu bagaimana dengan beasiswa pemerintah Turki? Kalau yang satu ini saya sedikit banyak bisa memberikan informasi (karena kuliah di Turki dengan beasiswa ini he he he....). Pemerintah Turki tiap tahunnya memang membuka peluang beasiswa untuk program sarjana (S1), pasca sarjana (S2 dan S3), riset, dan kursus bahasa Turki musim panas. Beasiswa ini mencakup pembebasan biaya kuliah, biaya tinggal di asrama pemerintah, biaya kursus bahasa Turki (bagi mahasiswa sarjana dan pasca sarjana selama kurang lebih satu tahun), uang saku yang besarannya bervariasi (tergantung tingkat pendidikan), dan asuransi kesehatan untuk penyakit ringan. Informasi selengkapnya tentang beasiswa ini bisa diperoleh di Kedutaan Turki Jakarta mengingat semua prosedur dan pengumuman dilakukan secara terpusat di Kedutaan Turki Jakarta disini saya hanya akan menjelaskan sedikit prosedur dan persyaratan secara umum saja. Yang pasti untuk beasiswa ini dibutuhkan kelengkapan dokumen berupa fotokopi ijazah terakhir dan transkrip nilai yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dilegalisasi pihak lembaga pendidikan yang mengeluarkan ijazah tersebut, formulir pendaftaran, fotokopi paspor, foto berwarna, surat keterangan sehat, surat rekomendasi dari 2 orang profesor/dosen/atasan kerja plus membuat semacam motivation letter (untuk S2 dan S3), serta dokumen lain seperti TOEFL jika ada (TOEFL sebenarnya bukan kewajiban namun jika punya lampirkan saja). Pembukaan pendaftaran beasiswa biasanya pada bulan Februari dan ditutup bulan Mei namun adakalanya mengalami perubahan seperti dipercepat penutupannya pada bulan April. Dan pengumuman penerimaan beasiswa diberikan pada bulan Juni (untuk kursus musim panas) dan September (untuk beasiswa riset dan program bergelar).

Setelah kelengkapan administrasi biasanya akan diadakan test berupa interview di Kedutaan Turki atau juga bisa via telepon. Saya diwawancarai oleh pihak Kedutaan Turki melalui telepon karena alasan pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan saat itu. Materi wawancara berupa motivasi saya memilih studi di Turki serta pengetahuan umum tentang Turki. Adakah trik khusus supaya lolos dalam sesi wawancara? Sejujurnya tidak ada trik khusus, jawab saja apa yang ada di pikiran anda atau memang sudah dipersiapkan sebelumnya sisanya serahkan pada Yang Maha Kuasa karena itu juga salah satu faktor penentu yang penting dalam meraih beasiswa dimana saja. Khusus untuk beasiswa pemerintah Turki para penerima dibebaskan dari segala macam ujian semacam YÖS atau Alles sehingga ketika mendaftar kuliah kelak tidak perlu melampirkan surat keterangan lulus YÖS atau Alles artinya calon mahasiswa sudah langsung bisa mendaftarkan diri pada universitas yang diterima. Sayangnya beasiswa ini belum mencakup untuk program spesialisasi di bidang kedokteran mengingat mahalnya biaya studi kedokteran di Turki serta perlunya mengikuti ujian keahlian untuk bidang kedokteran.

Lalu step berikutnya? Tunggu saja pengumuman beasiswanya, kalau lolos maka anda akan dihubungi via telepon atau e-mail tentang kelolosan anda tapi jika tidak ada konfirmasi apapun pada sekitar bulan September atau Oktober berarti beasiswa Turki belum saatnya menjadi milik anda tapi anda bisa tetap mencoba tahun berikutnya karena tidak ada sistem black list dalam beasiswa Turki. Jika anda lolos maka persiapkan diri anda serta biaya perjalanan (beasiswa Turki tidak memberikan ongkos transportasi jadi anda wajib datang ke Turki dengan biaya sendiri). Visa dan surat konfirmasi penerimaan akan anda dapatkan saat datang ke Kedutaan Turki, untuk mahasiswa peraih beasiswa pengurusan visa cukup mudah dan cepat dalam waktu sehari sudah jadi. Dan selanjutnya siapkan keberangkatan ke Turki.

Saat ini jumlah mahasiswa Indonesia di Turki jumlahnya sudah banyak bahkan mencapai kisaran 400-an, supaya mempermudah proses administrasi sebelum kedatangan bisa berkorespondensi dengan mahasiswa Indonesia yang sudah terlebih dahulu di Turki dan bertukar pengalaman. Perlu diketahui masyarakat Turki lebih menyukai penggunaan bahasa Turki daripada bahasa asing seperti Inggris jadi kesulitan terbesar saat datang pertama kali di Turki adalah masalah bahasa dan komunikasi. Saat ini sebagian mahasiswa Indonesia bisa dihubungi melalui jejaring sosial Facebook PPI Turki selain blog PPI Turki. Cukup ketik PPI Turki pada bagian search di Facebook maka otomatis akan dihubungkan pada akun PPI Turki. Disana anda bisa berkenalan dengan mahasiswa Indonesia dan saling bertukar informasi. Jadi diharapkan keaktifan anda dalam mencari informasi, dan jangan segan-segan bertanya kepada rekan-rekan yang sudah terlebih dahulu bermukim di Turki. Namun saran saya tanyakanlah hal-hal yang penting saja mengingat rekan-rekan mahasiswa disini juga memiliki banyak kegiatan lain di kampus. Oleh karena itu partisipasi aktif dalam mencari informasi serta kemandirian penting dalam hal ini. 

Sebelum tiba di Turki pastikan juga tempat tinggal atau asrama yang akan anda tuju, pastikan jelas alamatnya jadi anda bisa dengan mudah menuju lokasi asrama nantinya. Setelah tiba di Turki anda wajib pergi ke pihak Milli Eğitim atau departemen pendidikan setempat untuk melaporkan diri serta mendapatkan semacam surat keterangan beasiswa jadi anda tidak perlu membayar uang asrama dan uang kursus bahasa Turki. Selain itu anda juga diwajibkan membuat semacam izin tinggal dengan cara mengurusnya di kantor polisi setempat. Pengurusan izin tinggal umumnya memakan waktu 2-3 minggu jadi setelah anda mendapat asrama dan tempat kursus segeralah membuat izin tinggal. Satu hal lagi anda juga diwajibkan membuat akun bank di Turki yang ditunjuk oleh pihak Milli Eğitim karena uang beasiswa akan dikirim tiap bulannya melalui rekening bank. Sebelum uang beasiswa keluar wajib bagi anda mempersiapkan dana pribadi untuk keperluan selama awal-awal masa tinggal di Turki. Jumlahnya tidak bisa saya pastikan bergantung pada kebutuhan masing-masing individu, saya sendiri menghabiskan uang sebanyak 300-400 USD saat pertama kali tiba di Turki tepatnya di kota Ankara. Namun ada juga rekan lain yang menghabiskan uang 500 USD lebih tergantung pola hidup masing-masing.

Selain itu yang patut menjadi perhatian adalah masalah barang elektronik seperti laptop atau handphone. Harga barang-barang elektronik semacam itu cukup mahal di Turki jika dibandingkan dengan di Indonesia anda bisa membawanya dari Indonesia, namun untuk handphone anda harus melaporkan atau mendaftarkan handphone anda ke pihak Departemen Komunikasi Turki melalui provider yang anda gunakan selama di Turki. Tersedia 3 provider di Turki yaitu Avea, Türkcell, dan Vodaphone. Pilihlah sesuai minat anda lalu mintakan pendaftran handphone yang dibawa dari Indonesia supaya tidak terblokir. Karena di Turki setiap handphone yang dibawa dari luar Turki akan mengalami pemblokiran sistem jika tidak didaftarkan dan akibatnya handphone anda tidak bisa digunakan. Ribet memang tapi itulah prosedur yang mesti anda lakukan jikalau ingin berkomunikasi dengan aman di Turki.

Masyarakat Turki umumnya cukup ramah terhadap warga asing terlebih lagi dari Indonesia, walau mereka belum banyak mengenal Indonesia namun sambutan dari mereka cukup hangat dan bersahabat. Mereka juga tidak akan segan-segan membantu bila ada kesulitan jadi anda tidak perlu khawatir dengan penerimaan dari masyarakat setempat. Namun bukan berarti semuanya aman selama di Turki, bagaimanapun ada juga sebagian sisi negatif yang mungkin akan anda jumpai selama menjalani masa belajar di Turki. Yang penting pandai-pandai saja membawa diri pada situasi dan kondisi di Turki. Pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung adalah kalimat yang pas untuk menjalani kehidupan yang jauh dari tanah air.

Masalah makanan juga kadang kala menjadi salah satu kendala selama di Turki. Cita rasa makanan di Turki berbeda dengan makanan Indonesia oleh karena itu disarankan membawa makanan instant dari Indonesia untuk mengimbangi perbedaan cita rasa ini. Perlahan-lahan anda akan dapat terbiasa oleh masakan Turki yang cenderung menggunakan daging dan sayuran mentah sebagai menu utama. 

Itulah sekelumit pengalaman yang saya dapatkan selama belajar di Turki, rekan lain mungkin mendapatkan pengalaman berbeda namun tidak bisa saya tuangkan disini. Secara umum gambaran itulah yang dilalui dan dirasakan oleh rekan-rekan lain pada masa-masa awal dan selama belajar di Turki. Yang pasti jika niat belajar anda sudah kuat insya Allah rangkaian peristiwa apapun di Turki akan dilalui dengan hati penuh lapang. Selamat berjuang

Wassalamualaikum

by Yan Provinta Laksana

 

Selasa, 09 Februari 2010

Sepintas Gambaran Perkuliahan di Turki

“Begadang itu udah jadi keharusan buat mahasiswa!”, kalimat yang seharusnya ga mengherankan lagi bagi kawan – kawan mahasiswa pada umumnya. Tapi, sejujurnya kalimat sederhana dari temanku itu cukup membuat saya agak kaget. Karena selama satu tahun saya menjalani studi disini, saya masih bisa tidur dengan santai sebelum jam 10 malam dan menghabiskan (baca: membuang) waktu dengan mendownload dan menonton serial TV. Kalaupun saya “terpaksa” begadang, itupun karena aku penasaran dengan kelanjutan dari episode serial tv tersebut. :p

Kenapa saya bisa memiliki waktu luang sedemikian banyak, sedangkan teman – teman di tanah air kelimpungan mencari waktu untuk sekedar “bernapas”? Mungkin jawabannya terletak di sistem pendidikan yang cukup berbeda antara Turki dan Indonesia.

(perbandingan yang aku tuliskan, berdasarkan pengalaman menjalani studi di jurusan Teknik Kimia, Middle East Technical University dan curhatan – curhatan kawan mahasiswa/i di ITB dan UI)

Dosen adalah aspek penunjang utama suksesnya perkuliahan. Pada dasarnya, sistem pengajaran di kelas yang dilakukan oleh dosen – dosen di universitas di Turki, tidak jauh berbeda dengan dosen – dosen Indonesia. Dengan gaya pengajaran yang “ga peduli mahasiswa mau ngerti atau nggak”, mereka memberikan segala materi yang dibutuhkan untuk ujian. Tapi bukan berarti ga ada dosen yang asyik ya! Seperti di belahan dunia manapun, dosen tetap aja ada yang ngebosenin, ada yang bikin kita pengen gantung diri, tapi ada pula yang bikin semangat, kembali ke pribadi dosennya masing – masing. Dari segi kualitas, meski kebanyakan dosen “hanya” mengambil gelar master dan doktornya di Turki, namun kualitas mereka tidak perlu dipertanyakan. Yaaaa, ga kalah lah dengan dosen ITB yang lulusan Hawaii itu 

Gimana dengan kelas – kelasnya? Kapasitas kelas cukup beragam, mulai dari hanya 20 mahasiswa/i sampai kurang lebih 400 mahasiswa/i dalam satu kelas. Fasilitas di dalam kelas pun beragam, ada yang hanya dilengkapi dengan papan tulis kapur, OHP, projector (modern), hingga kelas yang dilengkapi dengan sound system dan projector yang memadai untuk “menyulap” kelas itu menjadi bioskop setiap malam. Laboratorium – laboratorium yang ada di universitas saya pun sangat memadai. Departemen saya (teknik kimia) memiliki dua gedung yang didedikasikan untuk laboratorium departemen (bukan untuk kimia dasar, fisika dasar, atau apapun yang dasar – dasar). Ditambah lagi perpustakaan kampus saya yang sangat modern, untuk saat ini, bisa membuat mahasiswa/i Indonesia malu menjelaskan bagaimana keadaan perpustakaan di kampusnya.

Untuk fasilitas ajar, memang saya akui universitas – universitas Indonesia tertinggal cukup jauh. Saya pernah menghabiskan waktu melakukan berbagai eksperimen di Laboratorium Kimia MIPA di ITB dan UI dan tak terhitung berapa kali saya bolak – balik perpustakaan ITB dan UI, karena itu saya bisa memberikan perbandingan yang cukup objektif.

Ingat paragraf pembuka saya yang menyatakan betapa santainya saya di Turki? Karena memang hampir tidak ada PR menghinggapi kehidupan mahasiswa/i Turki. Mungkin hanya laporan laboratorium atau 10 soal singkat fisika per-minggunya atau yang separah – parahnya ya pelajaran Bahasa Inggris yang harus banyak melakukan “research” atau 5 lembar A4 di pelajaran departmental. Bahkan, ada kawan saya yang kuliah di Istanbul dan tidak pernah menerima PR apapun, selain laporan laboratorium! Bandingkan dengan anak UI dan ITB yang hari – harinya dihantui dengan presentasi – presentasi yang seabreg, tugas akhir tahun, seperti membuat “pelontar bermagnet” di FTI ITB, atau mengkonsepkan, membuat layout dan meng-coding sendiri game komputer bagi anak FASILKOM UI dan jangan lupa segudang karya tulis dan makalah yang menghantui hari – hari indah mahasiswa. Sahabat saya pun bergurau, bahwa fakultasnya, FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat di UI) sebenarnya adalah singkatan dari “Fakultas Kebanyakan Makalah”.

Tentu saja, ada positif dan negatif dari masing – masing sistem menyangkut tugas tersebut. Saya sendiri, yang notabene pemalas, lebih mencintai sistem Turki yang tidak memberikan banyak tugas kepada mahasiswa/i. Namun, saya tidak mampu meninjau dari sudut pandang akademis tanpa memasukkan pendapat subjektif saya, jadi, silakan nilai sendiri =)

Pada semester 3 / 4 biasanya mahasiswa/i Indonesia dibingungkan dengan pilihan lagi. Mereka harus memilih sub-jurusan / peminatan dari jurusan mereka masing – masing. Namun tidak demikian halnya di Turki (setidaknya di Fakultas Teknik di universitas saya). Jurusan yang disediakan di Turki sudah sangat beragam dan cukup spesifik, mungkin karena itu mereka tidak memberi pilihan peminatan lagi. Namun, tersedia cukup ruang untuk memilih mata kuliah, karena mulai dari semester 3, akan ada mata kuliah – mata kuliah pilihan, baik yang pilihannya terbatas maupun tidak.

Satu lagi perbedaan paling penting antara universitas di Indonesia dan Turki adalah skripsi. Tidak ada skripsi di Turki. Tidak ada skripsi, tidak berarti kerja lapangan juga tidak ada. Tetap ada kerja lapangan yang dilakukan di waktu musim panas bagi mahasiswa/i di Turki. Untuk Fakultas Teknik, kerja lapangan ini dilakukan dua kali, yaitu pada akhir tahun kedua dan akhir tahun ketiga. Untuk Fakultas MIPA, kerja lapangan hanya dilakukan satu kali (saya kurang tahu untuk jurusan Matematika). Untuk Fakultas Pendidikan, juga ada praktek mengajar (namun untuk detailnya saya kurang tahu). Sedangkan untuk program studi sosial, sejauh yang saya tahu, di universitas saya, tidak ada kerja lapangan. Di akhir kerja lapangan mahasiswa/i diharuskan membuat laporan yang kemudian di evaluasi oleh dosen yang bersangkutan. Kerja lapangan ini merupakan syarat kelulusan. Selain kerja lapangan, syarat kelulusan yang lain adalah mengambil pelajaran Bahasa Turki dan Sejarah Turki. Di universitas saya, dua pelajaran ini adalah pelajaran non-SKS, namun di beberapa universitas lain, dua pelajaran itu termasuk dalam penghitungan IPK.

Demikian garis besar perbedaan sistem yang cukup mencolok menurut saya antara universitas di Turki dan Indonesia.

by Brando

Kamis, 31 Desember 2009

tahun baru

Seluruh anggota Persatuan Pelajar Indonesia Turki mengucapkan selamat tahun baru 2010 Masehi

mutlu yıllar dileriz

Sabtu, 28 November 2009

Seluruh Pengurus Persatuan Pelajar Indonesia Turki mengucapkan selamat hari Raya Iedul Kurban 1430 H/2009 M

Kurban Bayramınınzı Mübarek Olsun

Senin, 09 November 2009

5 Fakta tentang Turki

Fakta #1: Predominantly Moslem Populated Country
Sebelum benar-benar datang ke Turki, mungkin kebanyakan pelajar akan membayangkan bahwa Turki adalah sebuah negara muslim yang konservatif (kecuali Anda benar-benar mencari informasi tentang ini). Faktanya, atmosfer kehidupan Eropa sangat terasa di Turki. Paling tidak, di salah satu kota dengan jumlah pelajar yang cukup besar: Istanbul. Gaya pakaian yang modis ala Eropa lengkap dengan stockings, boots, dan scarves (bahkan ketika cuaca tidak dingin); wajah-wajah Eropa dengan rambut pirang dan kulit pucat; plus budaya kebarat-baratan seperti berciuman di muka umum dan di taman-taman., merupakan pemandangan biasa di sini Yang lebih lucu lagi, beberapa rekan pelajar Indonesia yang berusaha mencari tau arah kiblat berusaha bertanya kepada beberapa tetangga, tapi tidak satupun dari mereka yang tahu. Kebanyakan dari kami harus menemukan masjid dulu untuk akhirnya mengetahui kemana arah kiblat dari Istanbul. Ketika dalam sebuah kesempatan terjadi diskusi tentang proses masuknya Turki ke Uni Eropa, ada seorang siswa menggunakan istilah "moslem country" untuk merujuk Turki. Alhasil, sang dosen langsung merengut dan bilang bahwa Turki ini "predominantly moslem populated country".

Fakta #2: Dense Country
Istanbul, kota terbesar di Turki, adalah kota yang padat sekali! Ada sekitar 20 juta orang hidup di Istanbul. Di beberapa jalan utama, misalnya Jalan Istiklal, benar-benar tampak lautan manusia yang tidak pernah habis, mau pagi kek, siang kek, sore kek, sampai malam dan pagi lagi, jalanan selalu penuh dengan manusia, macet, bukan macet kendaraan seperti di Jakarta, tapi macet manusia. Setiap naik bis, metro, tramvay, atau kendaraan umum darat lainnya, kesempatan untuk dapat tempat duduk sangat kecil.

Fakta #3: Well Maintained Transportation
Masih tentang transportasi umum, yang ini negara kita sudah tertinggal jauh. Selain punya sistem metro bawah tanah layaknya negara-negara Eropa lain, Turki juga punya kereta gantung yang mereka sebut Teleferik. Kita juga punya sistem ini, tapi hanya untuk tujuan rekreasional, seperti yang ada di TMII. Malaysia pun punya, seperti yang ada di Genting Highland. Tapi di Istanbul ini, kereta gantung atau cable car atau teleferik ini benar-benar dipakai untuk sarana transportasi umum untuk menyeberang dari satu bukit ke bukit lain, mengingat kontur bumi Istanbul yang sangat berbukit-bukit. Metode dan nilai tiketnya juga persis seperti tarif metro dan bis saja, 1,5 Lira atau sekitar 0,75 euro.



Fakta #4: Free Sport Utilities for a Healthier Society
Kebaanyakan pelajar Indonesia tidak melakukan olahraga secara teratur di Turki ini. Mungkin kebanyakan akan merasa bahwa jalan kaki dari asrama ke kampus setiap hari saja sudah cukup. Apalagi, jalannya naik turun. Di beberapa kampus ada kolam renang dan tempat fitnes, tapi berbayar, jadi kebanyakan pun belum pernah mencobanya. Faktanya, bahwa hampir di setiap taman yang ada di Istanbul dan kota-kota lain di Turki, pemerintah menyediakan alat-alat fitnes gratis di tempat-tempat terbuka. Ada sepeda statis, air walker, angkat beban, alat sit up, dan berbagai alat lain seperti yang biasa kita temui di tempat fitnes berbayar. Bagusnya lagi, masyarakat Turki benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Kalau fasilitas semacam ini ada di negara kita, besi-besinya pada dicuri dan dijual kali ya?

Fakta #5: A Country in Two Continents
Yang ini jelas merupakan karakteristik paling unik milik Turki secara umum, dan Istanbul secara khusus. Secara geografis, setengah dari Istanbul berada di kawasan Benua Eropa, sementara setengah lainnya berada di kawasan Benua Asia. Kedua kawasan ini dipisahkan oleh Selat Bosforus yang dihubungkan dengan sebuah Jembatan Bosforus sepanjang 1,5 kilometer. Bayangkan kalau ada rekan yang tinggal di sisi Asia, dan sekolah di sisi Eropa. Menyenangkan sekali ya setiap hari lintas benua ketika berangkat kerja atau sekolah, melewati sebuah gapura raksasa bertuliskan "Selamat Datang di Sisi Eropa" dan "Selamat Datang di Sisi Asia".

(dt)

Rabu, 23 September 2009

Selamat Idul Fitri 1430H/2009M

Segenap anggota PPI Turki mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H/2009M
Minal Aidzin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Semoga Allah SWT menerima ibadah puasa kita dan memaafkan seluruh kesalahan kita
Bayramınız Kutlu Olsun